Selasa, 19 November 2013

Tentang

Suatu hari aku beristirahat di sebuah gereja. Aku mengenakan mukena untuk berbicara. Mengadukan yang kemarin kuceritakan semu. Kukepalkan kedua tanganku seraya jari-jarinya saling bertaut. Kutopang daguku dan tanpa terasa aku memejam gelap.

Aku harap aku punya pribadi lain yang melewati hari-hari itu. Agar aku dapat mengusirnya pergi jauh dari ragaku dan membiarkannya menangis di sudut gerbong tua kereta malam. Sangat menyakitkan, tapi dinginnya pedang es itu jauh lebih mematikan! Aku mati saat bercengkrama denganMu.
Aku terlelap bukan tertidur, bukan pula mati atau tidak sama sekali. Aku sedang menyaksikan banyak adegan yang tersimpan sendirinya di satu titik paling dalam di kepalaku. Seolah-olah mataku berputar menghentikan darah.

Tentang kursi peristirahatan, tentang bulan langkah malam, tentang makanan tak karuan, tentang perhiasan tangan, tentang buku pelajaran, tentang gundukan batu rebahan, tentang sentuhan pergelangan, tentang bahagia kepingan intan, dan tentang kosongnya harapan.

Tentang aku yang terlarut, tentang aku yang terbang tinggi, tentang aku yang bermimpi, tentang aku yang terbangun, tentang aku yang tersentak, tentang aku yang dijatuhkan dari bantalan awan, tentang aku yang tak tahan, tentang keputusan yang dipermainkan, dan tentang doa yang usai berantakan. Aku pamit pulang, Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar