Suatu hari aku beristirahat di sebuah gereja. Aku mengenakan mukena
untuk berbicara. Mengadukan yang kemarin kuceritakan semu. Kukepalkan
kedua tanganku seraya jari-jarinya saling bertaut. Kutopang daguku dan
tanpa terasa aku memejam gelap.
Aku harap aku punya pribadi lain yang melewati hari-hari itu. Agar
aku dapat mengusirnya pergi jauh dari ragaku dan membiarkannya menangis
di sudut gerbong tua kereta malam. Sangat menyakitkan, tapi dinginnya
pedang es itu jauh lebih mematikan! Aku mati saat bercengkrama denganMu.
Aku terlelap bukan tertidur, bukan pula mati atau tidak sama sekali.
Aku sedang menyaksikan banyak adegan yang tersimpan sendirinya di satu
titik paling dalam di kepalaku. Seolah-olah mataku berputar menghentikan
darah.
Tentang kursi peristirahatan, tentang bulan langkah malam, tentang
makanan tak karuan, tentang perhiasan tangan, tentang buku pelajaran,
tentang gundukan batu rebahan, tentang sentuhan pergelangan, tentang
bahagia kepingan intan, dan tentang kosongnya harapan.
Tentang aku yang terlarut, tentang aku yang terbang tinggi, tentang
aku yang bermimpi, tentang aku yang terbangun, tentang aku yang
tersentak, tentang aku yang dijatuhkan dari bantalan awan, tentang aku
yang tak tahan, tentang keputusan yang dipermainkan, dan tentang doa
yang usai berantakan. Aku pamit pulang, Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar