Aku benci hal itu! Hal yang membuatku demam tak karuan. Meninggalkan
masa lalu yang mungkin akan menjadi masa depanku pula. Hahaha badanku
bertambah asin, mungkin kadar garamnya mulai berdifusi ke dalam tubuhku.
Untunglah tak ada koreng-koreng busuk yang bertengger menjijikkan di
sana. Aku masih merasa bahagia. Aku bukan ikan rupanya, aku pernah
terlahir dari sepasang ‘ikan’ yang pada akhirnya pula meninggalkan
semua. Penghianatan itu muncul karena penghianatan lainnya. Bahkan
mungkin tangannya sudah tak mau membuat hitam walaupun tak disengaja
Semua benda mengeras masa ini, bahkan yang tak berwujudpun ikut-ikut
mengeras. Ya! Benda yang sebenarnya semu, hati. Hati yang satu meronta,
yang satu meninggalkan dan yang satu menghibur. Hiburan itu hanya menari
di atas awan. Karena kita berbeda alam. Itu sebabnya aku
mengibas-ibaskan siripku yang kecil untuk berusaha mengambang menemui
matahari—alasanku.
Aku berenang jauh di dalam, tapi kau terbang
terlalu atas. Leher membengkok tak apalah. Kutatap lekat putaran itu
yang kau buat tepat di atas tempat tidurku. Tapi air yang bergelombang
itu membawa pesanku ke tepinya, bukan dipantulkan tepat ke atas. Padahal
isinya sederhana, “hai kau yang terucap menguasai udara, turunlah ke
atasku ambil salah satu ikan kecil di badanku. Akanku dongakkan
kepalaku walau sebenarnya sulit. Tatapan sudut matamu yang aku inginkan,
seperti yang pernah kau lakukan pagi itu. Sederhana!” Tinta megahku
habis, jadi kugunakan tinta semu—abu-abu. Tapi ternyata putih kertasnya
terlalu mencolok dan pesanku tak bisa kau cerna. Kemudian kulihat kau
begitu gagah dan bangga menembus ungu pelangi itu sebelum aku
menenggelamkan diriku lebih dalam lagi. Aku malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar